Selasa, 10 September 2013


PENDAHULAUN

A.    LATAR BELAKANG
          Islam yang kita catut dari Kalam Ilahi dan sunnah bukan apinya, bukan nyalanya, bukan! Tapi abunya, debunya, ach, ya asapnya, abunya yang berupa celak mata dan surba abunya yang bisanya cuma baca Fatihah dan tahlil, bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung zaman  satu ke zaman yang lain. (Ir. Soekarno, 1940)
Dalam diskursus politik Islam Indonesia, Sukarno selalu diposisikan sebagai penentang gerakan Islam paling wahid yang harus berhadapan dengan pemikir-pemikir Islam taat seperti M. Natsir. Bahkan, H. Agus Salim pernah menuduhnya telah keluar dari Islam. Tidak hanya itu, tidak jarang namanya diidentikkan dengan Kemal at-Taturk yang menghapus lembaga khilafat dan melakukan sekularisasi menyeluruh di Turki. Sangat gampang mencari pembenaran atas sekularisme Sukarno. Dia-lah penentang gigih visi Islam sebagai asas negara. Dia pula yang telah membubarkan partai Islam terbesar, Masyumi.[1]
Layaknya seorang guru yang cakap, ia mampu menyampaikan gagasan-gagasan penting dengan lancar, penuh imajinasi, dan komunikatif. Di tangannya, topik-topik bahasan yang sebenarnya berat menjadi gampang dicerna, mudah dipahami masyarakat luas. Misalnya, pada tahun 1958-1959 ia memberikan rangkaian kuliah guna menjelaskan kembali sila demi sila dari Pancasila sebagai dasar negara, masing-masing satu sila setiap kesempatan tatap muka. Pada 26 Mei 1958 ia memulai rangkaian itu dengan memberi kuliah tentang pengertian umum Pancasila. Setelah menyampaikan penjelasan tentang berbagai bentuk kapitalisme dan perlawanan terhadapnya, ia menekankan bahwa Pancasila bukan hanya merupakan pandangan hidup, melainkan juga alat pemersatu bangsa.
Kuliah pembukaan itu disusul kuliah-kuliah serupa lain yang biasanya diadakan di Istana Negara dan disiarkan langsung melalui radio ke seluruh penjuru Tanah Air. Berbeda dengan pidato-pidato Bung Karno di depan massa yang biasanya berapi-api membakar semangat rakyat, kuliah-kuliah ini berjalan lebih rileks dan komunikatif.
Dengan kuliah-kuliah itu tampaknya Bung Karno ingin sekaligus mengingatkan, Istana Negara bukan tempat sangar atau sakral yang hanya boleh dimasuki presiden dan pejabat maha penting negeri ini, tetapi Istana milik rakyat, tempat masyarakat belajar mengenai banyak hal, termasuk dasar negara. Ia ingin menjadikan Istana (dan mungkin Indonesia umumnya) sebagai “ruang kuliah” di mana terselenggara proses belajar-mengajar antara masyarakat dan pemimpinnya.[2]







PEMBAHASAN
PEMIKRAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM IR. SOEKARNO
A.    BIOGRAFI IR. SOEKARNO
Presiden pertama Republik Indonesia adalah Soekarno, yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta tanggal, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..
Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa Nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.
Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.
Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”.

Ir. Soekarno, mengusulkan dasar filsafat negara Pancasila dengan susunan:
1.  Kebangsaan Indonesia
2.  Internasionalisme atau perikemanusian
3.  Mufakat atau demokrasi
4.  Kesejahteraan Sosial
5.  Ketuhanan Yang Maha Esa
Ketokohan Ir. Soekarno begitu melegenda sebagai proklamator dan pemimpin besar negeri ini, dalam konteks perjuangan Indonesia merdeka di abad modern namanya tetap menjadi yang terdepan, dicintai oleh rakyat, dibela oleh para loyalisnya dan diakui oleh Barat sebagai pemimpin yang konsisten dengan perjuangan anti kapitalisme, kolonialisme dan neo kapitalisme.
Nama Soekarno mempunyai magnet yang besar, pidato – pidatonya begitu menggelegar dan menggelorakan semangat nasionalisme dan kini para soekarnois masih mempercayai bahwa bung karno yang kharismatik adalah pemimpin besar yang tak akan pernah tergantikan.
Bung Karno sebagai Icon Nasionalis tidak perlu diragukan lagi, dari barat hingga ke timur negeri ini seolah meng-amini namun sisi lain bung karno sebagai sosok guru bangsa yang juga memiliki sisi – sisi islamis tentu tak banyak orang yang mengetahuinya terlebih di masa kepemimpinannya diwarnai dengan benturan – benturan politik dengan kalangan islamis dan polemik yang menajam seputar dasar negara dengan tokoh paling terkemuka kalangan Islam saat itu, Mr. Mohammad Natsir. Perlu untuk digarisbawahi bahwa kecintaan kalangan Islam kepada bung karno diekspresikan dengan sikap kritis dan upaya – upaya koreksi atas sikap dan langkah politik bung karno bukan dengan sikap selalu manis apalagi meng-kultuskan-nya, sebuah sikap yang dianggap oleh sebagian kalangan soekarnois sebagai sikap kontra revolusioner, padahal sepanjang sejarah kekuatan politik Islam yang dipresentasikan oleh Masyumi justru senantiasa bersikap sebagai kekuatan penyeimbang (oposisi) yang senantiasa “loyal”, meski sejarahnya terbungkus oleh kabut misteri namun “pengkhianatan” itu akhirnya justru datang dari Partai Komunis Indonesia (PKI) koalisi strategis pemerintah bung karno yang tergabung dalam Nasakom yang selalu berusaha mentahbiskan dirinya sebagai kekuatan yang proggresive revolusioner.
Nama Bung Karno yang dikenal sebagai Putra Sang Fajar tidak bisa dilepaskan dari tokoh–tokoh Pergerakan Islam yang Istiqomah berjuang demi cita–cita besar Kemerdekaan Indonesia, pemuda Soekarno pernah mondok di rumah tokoh Haji Oemar Said Cokroaminoto, tokoh terkemuka Sjarikat Islam, selain belajar filsafat dan pemikiran Islam pemuda soekarno juga belajar tentang pergerakan kepada orang yang tepat, bung karno sangat menikmati ceramah dan orasi cokroaminoto yang penuh energi perjuangan meski berada dalam pengawasan pihak belanda, gaya orasi sang guru turut membentuk gaya kepemimpinan bung karno dengan ciri khas pidato – pidatonya yang lantang dan berapi – api, Islamisme Cokroaminoto yang dijuluki oleh belanda sebagai “raja jawa tanpa mahkota” sedikit banyak terserap oleh pemuda soekarno, meski bung karno akhirnya memilih jalannya sendiri dengan hijrah ke Bandung dan kemudian mendirikan Partai Nasionalis Indonesia.
Tatkala berada dalam pengasingan belanda bung karno senantiasa berkorespondesi dengan Kyai Haji Mas Mansur, tokoh pergerakan dan ulama berpengaruh asal Surabaya yang dekat dengan kalangan NU, kelak KH Mas Mansur dipercaya menjadi Pengurus Besar Pesyarikatan Muhammadiyah dan pada masa pendudukan jepang mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) dan terlibat dalam perjuangan bersama Bung Karno dalam Empat Serangkai.
Dengan Mas Mansur Bung Karno sering bertukar pikiran tentang Dinamika Islam dan langkah-langkah untuk me-mudakan pengertian Islam, beliau mengutarakan ketidaksetujuannya dengan sikap taklid bahkan secara tegas mengkritisi tentang “hijab” atau pembatas antara jamaah pria dan jamaah wanita, dan banyak kegelisahan–kegelisahan bung karno tentang permasalahan keislaman yang kesemuanya itu menunjukkan semangat dan harapan seorang soekarno agar Syiar Islam tidak jalan ditempat.
Selain dengan KH Mas Mansur, Bung Karno juga seringkali berkirim surat kepada Tuanku A. Hassan, Tokoh Islam Pendiri Persis di Bandung, Dalam Buku “Di Bawah Bendera Revolusi” surat-surat itu turut didokumentasikan, Bung Karno tidak segan-segan meminta “dikirimi” Literatur Islam tatkala berada dalam pengasingan. Disisi lain Fatmawati, Isteri Bung Karno dikenal sangat agamis, dalam sebuah catatan terungkap bahwa pada saat rapat raksasa di Lapangan Ikada yang kini dikenal sebagai Gelora Bung Karno, fatmawati mengumandangkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Latar belakang Fatmawati yang Agamis dinilai juga membawa pengaruh yang besar terhadap karir politik dan perjalanan hidup bung karno hingga akhir hayatnya.
C.    PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM SOEKARNO
Nama Soekarno tidak hanya disegani di Indonesia, tapi juga di dunia. Sebagai pejuang kemerdekaan dan presiden pertama negeri ini, Soekarno sangat menentang setiap bentuk imperialisme dan neokolonialisme. Kiprah dan pemikiran Soekarno terekam dalam catatan-catatan sejarah. Telah banyak diterbitkan buku yang menceritakan perjuangan dan kehidupan Soekarno. Dari sekian banyak buku itu ternyata kurang menggali pemikiran Soekarno dalam aspek pendidikan. [3]Ketika Soekarno menaruh perhatian terhadap pendidikan Islam mungkin ada yang keheranan. Pasalnya, Soekarno selama ini tidak dikenal sebagai tokoh dan pemimpin muslim. Keheranan itu setidaknya perlu dihilangkan karena sebenarnya Soekarno juga mendalami Islam, bahkan pernah berkecimpung dalam salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar di negeri ini. Bahkan, tokoh Islam dari luar Indonesia seperti Jamaluddin Al-Afghani diakui memberikan pengaruh pada pemikiran Soekarno.
Pendidikan Islam menjadi salah satu perhatian Soekarno karena dapat dipakai sebagai sarana transformasi masyarakat muslim Indonesia. Dalam pandangan Soekarno, pendidikan Islam merupakan arena untuk mengasah akal, mempertajam akal, dan mengembangkan intelektualitas. Integrasi ilmu ditekankan Soekarno dimana pendidikan Islam tidak harus mendikotomikan ilmu agama dan ilmu umum. Esensi ilmu agama dan ilmu umum pada dasarnya tidak berbeda yang bertujuan mengabdi pada Tuhan sebagai jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ditelisik lebih mendalam, peran akal bagi Soekarno memiliki posisi penting dalam setiap langkah kehidupan manusia. Bagi Soekarno, hanya dengan cara tersebut kemajuan di bidang ilmu dan teknologi dapat diraih yang pada gilirannya membawa kebangkitan Islam. Soekarno menyebut bahwa ”motor” hakiki dari semua rethinking of Islam adalah kembalinya penghargaan terhadap akal. Soekarno menegaskan perlu difungsikannya akal agar umat Islam mampu bangkit dari keterlelapan. Umat Islam harus berani melepaskan diri dari ”penjara taqlid” dan memberanikan diri untuk menatap masa depan yang sarat dengan kompetisi dan kompleksitas kultur dan ilmu pengetahuan. Pemikiran Soekarno terkait aspek pendidikan juga menyoroti posisi perempuan. Perempuan harus diberi hak yang sama dengan laki-laki untuk mampu memberdayakan diri dan berkontribusi bagi kehidupan. Soekarno menentang pendidikan Islam yang memarjinalkan kaum perempuan. Tak kalah menariknya, Soekarno membahas pentingnya guru dalam proses pendidikan. Menurut Soekarno, guru tidak sekadar ahli dalam bidangnya, tapi hendaknya mampu menjadi teladan. Soekarno pernah berkata, ”Hanya guru yang benar-benar Rasul Kebangunan dapat membawa anak ke dalam alam kebangunan. Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan dapat ”menuntun” kebangunan ke dalam jiwa anak.[4]
Soekarno dengan segala dinamikanya menunjukkan bagaimana tokoh yang satu ini menempati hati rakyat Indonesia bahkan dunia. Soekarno merupakan sosok historis yang menampung berbagai makna dalam artiannya. Beliau merupakan salah seorang founding fathers, presiden pertama RI, tokoh dunia, serta mewakili warna nasionalisme dan otoriter yang tercermin dalam pantulan periode pemerintahannya.
Soekarno dilahirkan pada 6 Juni 1901 dengan orangtua Raden Sukemi Sosrodihardjo dan Ida Nyoman Rai. Kedua orangtua Soekarno termasuk dalam kalangan bangsawan (priyayi dan brahmana).[5] Hal ini berpengaruh pada kesempatan Soekarno untuk mengecap pendidikan tinggi dari Barat hingga mencapai gelar Insinyur (seperti diketahui pada masa penjajahan kolonial Belanda, pendidikan tidak dibuka luas bagi semua akses lapisan masyarakat). Selain itu semenjak kecil Soekarno mendapatkan sosialisasi nilai dari wayang yang kerap ditontonnya hingga dinihari. Penyerapan nilai- nilai wayang ini menyebabkan pola pemikiran Soekarno merupakan replika dari nilai tradisionalisme Jawa. Konsep ksatria merupakan konsep yang direguk Soekarno sebagai landasan bagi perjuangannya terhadap kolonialisme yang mencengkram wilayah Indonesia.
Soekarno dengan kemampuannya dalam memahami bahasa asing menyelami alam pemikiran para pemikir besar dunia (seperti Marx, Gladston,Rousseau,Jaures,dan lainnya) yang membentuk corak dan arah pemikiran Soekarno. Kemampuannya ini menjadikan pemikiran Soekarno kosmopolitan dan menjadikannya tidak terkungkung pada teori-teori Indonesia saja dalam pemikirannya. Hal ini bisa dilihat dalam pikirnya di masa demokrasi terpimpin yang kontra terhadap neokolonialisme dan cenderung membawa Indonesia ke blok Komunis. Kekaguman dan penghayatan terhadap pemikir barat juga menyebabkan bagaimana Soekarno melihat Islam dalam implementasinya. Soekarno banyak melahap tulisan para orientalis Barat tentang Islam yang mengkonstruksi pemikirannya tentang Islam. Dalam korelasinya dengan Islam, pengaruh lingkungan keluarga dan sosial juga mempengaruhinya. Bagaimana keluarga Soekarno yang dalam klasifikasi Geertz tergolong abangan membentuk bagaimana Soekarno melihat Islam (bandingkan dengan Natsir misalnya yang terbentuk dengan pola muslim yang moderat).[6]
Dengan latar belakang tersebutlah Soekarno tumbuh dan terkembang serta menyalurkan pemikirannya dalam bentuk demokrasi terpimpin. Demokrasi terpimpin ditenggarai hadir dikarenakan kompetisi antar parpol yang ketat dikarenakan tiada partai yang memperoleh suara mayoritas. Konsep demokrasi terpimpin merupakan jalan potong yang membahayakan bagi keberlangsungan Indonesia dan nyaris menjungkalkan negeri ini ke cengkraman Komunis. Konsep demokrasi terpimpin menyakini Soekarno sebagai Pemimpin revolusi yang belum selesai, Presiden seumur hidup, serta gelar keagamaan yang disematkan NU- wali al amri dharuri bi al syaukah.[7] Rangkaian kebijakan yang merupakan output dari demokrasi terpimpin telah membawa negeri ke dalam belukar yang membahayakan eksistensi demokrasi dan keutuhan negeri. Masyumi dan PSI menjadi partai yang dimusuhi, pada akhirnya harus menghentikan operasional kegiatan operasinya. Dalam hal ini penguasa layaknya nakhoda yang sahih dan wajib ditaati untuk membawa negeri ke cita- cita revolusi yang diinginkan.[8]
Pemikiran NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis) yang diusung oleh Soekarno pada periode demokrasi terpimpin jika ditilik merupakan kontinuitas dari pemikiran Soekarno muda pada tahun 1926 dengan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (dapat dilihat dalam di bawah bendera revolusi). Konsep ini juga merupakan sintesis dari berbagai arus besar yang ada di Indonesia.
Pemikiran Soekarno untuk menentang neokolonialisme juga tak bisa dilepaskan dari pengaruh wayang yang menyerap di lapisan pemikirannya. Kekagumannya pada sosok Bima dalam kisah wayang diejawantahkan sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuatan imperialis dan antek- anteknya. Akibat langsungnya ialah sejumlah politik mercusuar yang menguras kas Negara dikarenakan keinginan untuk membangun kemegahan fisik.[9] (kompleks stadion senayan, monas, sejumlah patung, ajang pesta olahraga bagi yang anti imperialisme Barat) hal ini mengingatkan pada megalomania yang mengidap para raja dengan membangun bangunan- bangunan besar atas nama kebesaran dan keagungan.
Pemikiran Soekarno yang menegasikan kalangan Masyumi dan memenjarakan sejumlah tokohnya seperti Natsir, Hamka, melahirkan resistensi bagi sejumlah kalangan Islam. Tiada berlebihan jika dalam penumpasan PKI, kalangan Islam turut aktif dikarenakan selain garis komunis yang merugikan kalangan muslim, juga dikarenakan kekecewaan kalangan muslim atas sikap Soekarno. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 telah menjadi kebijakan yang merugikan bagi kalangan islam politik dikarenakan kesempatan untuk melegalisasi Islam sebagai dasar Negara menjadi terhalang untuk kesekian kalinya (setelah penghapusan tujuh kata di Piagam Jakarta).
Pemikiran Soekarno yang kontra asing juga menghadirkan skenario bahwa tergulingnya Soekarno dari tampuk kekuasaan, juga tiada bisa dilepaskan dari peran asing. Dalam sejumlah buku baik berupa biografi, maupun yang ditulis penulis asing, ada indikasi campur tangan asing dalam alih kekuasaan ke tangan Soeharto dan memulai era yang dinamai Orde Baru. Masa Demokrasi terpimpin juga tidak bisa dilepaskan echonya sebagai 1959-1965 saja, melainkan lebih dari periode tersebut. Periode Orde Baru dibangun dengan sebuah ketakutan dan memori kelam dari sejarah masa tersebut. High cost economy dengan sejumlah pembangunan mega proyek turut mengakselerasi berakhirnya era Soekarno. Tautan antara faktor politik, ekonomi, sosial, yang berakumulasi dalam terminologi waktu membawa demokrasi terpimpin ke akhir eranya. Meski begitu berakhirnya era Orde Lama tidak berarti punahnya pemikiran Soekarno. Pemikiran Soekarno masih begitu dikagumi, ditelaah dan diejawantahkan dalam konteks kontemporer.
D.    TEORI DAN PRAKSIS
Dari teori-teori filsafat dan politik serta acuan-acuan historis yang digunakan dalam mengurai sila-sila Pancasila, tampak pengetahuan Soekarno amat luas dan dalam. Dalam uraian-uraiannya, tidak jarang ia menyitir pikiran Renan, Confusius, Gandhi, atau Marx. Dengan begitu, ia seolah ingin menunjukkan dan memberi contoh, tiap warga negara perlu terus memperluas pengetahuannya. Meski ia sendiri sebenarnya dididik sebagai orang teknik, namun amat akrab dengan ilmu-ilmu sosial, terutama filsafat, sejarah, politik, dan agama.
Dalam salah satu kuliahnya Bung Karno menyinggung kembali pertemuan dan dialognya dengan petani miskin Marhaen. Dialog sendiri sudah berlangsung jauh sebelumnya, tetapi ia masih mampu mengingat dan menggambarkan amat jelas. Ini menandakan, Soekarno menaruh perhatian pada perjumpaannya dengan wong cilik, rakyat jelata, dan ingin menjadikannya sebagai titik tolak perjuangan bersama guna membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu kemiskinan dan ketidakadilan.
Dengan kata lain, sebagai guru bangsa ia tak suka hanya berkutat di dunia teori, tetapi juga menceburkan diri ke realitas kehidupan sehari-hari bangsanya. Bung Karno selalu berupaya keras mempertemukan “buku” dengan “bumi,” menatapkan teori-teori sosial-politik dengan realitas keseharian manusia Indonesia yang sedang ia perjuangkan. Bung Karno terus mempererat kaitan teori dan praksis, refleksi dan aksi. Mungkin inilah salah satu faktor yang membedakannya dari pemimpin lain, baik yang sezamannya maupun sesudahnya.
Perlu diingat, lepas dari apakah orang setuju atau tidak dengan uraian dan gagasannya, satu hal tak dapat diragukan tentang Soekarno: ia bukan seorang pejabat yang korup. Sulit dibayangkan, Soekarno suka menduduki posisi-posisi tertentu di pemerintahan karena ingin mencuri uang rakyat atau menumpuk kekayaan untuk diri sendiri.
Perjuangan Soekarno adalah perjuangan tulus, yang disegani bahkan oleh orang-orang yang tak sepaham dengannya. Karena itu, tak mengherankan betapapun ruwetnya ekonomi Indonesia di bawah pemerintahaannya, tak terlihat kecenderungan pejabat-pejabat pemerintah di zaman itu yang tanpa malu korupsi atau berkongkalikong menjual sumber-sumber alam milik rakyat.[10]


PENUTUP
KESIMPULAN
Presiden pertama Republik Indonesia adalah Soekarno, yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta tanggal, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai.
Nama Ir. Soekarno begitu melegenda sebagai proklamator dan pemimpin besar negeri ini yaitu Indonesia, dalam konteks perjuangan Indonesia merdeka di abad modern namanya tetap menjadi yang terdepan, dicintai oleh rakyat, dibela oleh para loyalisnya dan diakui oleh Barat sebagai pemimpin yang konsisten dengan perjuangan anti kapitalisme, kolonialisme dan neo kapitalisme.
Pendidikan Islam menjadi salah satu perhatian Soekarno karena dapat dipakai sebagai sarana transformasi masyarakat muslim Indonesia. Dalam pandangan Soekarno, pendidikan Islam merupakan arena untuk mengasah akal, mempertajam akal, dan mengembangkan intelektualitas. Integrasi ilmu ditekankan oleh soekarno dimana pendidikan Islam tidak harus mendikotomikan ilmu agama dan ilmu umum. Sebenarnya Ia dididik sebagai orang teknik, namun Ia amat akrab dengan ilmu-ilmu sosial, terutama filsafat, sejarah, politik, dan agama.
Soekarno menaruh perhatian pada wong cilik, rakyat jelata, dan ingin menjadikannya sebagai titik tolak perjuangan bersama guna membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu kemiskinan dan ketidakadilan. Perjuangan Soekarno adalah perjuangan tulus yang disegani, bahkan ole orang-orang yang tak sepaham dengannya.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Suhelmi. Soekarno Versus Natsir. Jakarta: Darul Falah. 1999
Deliar Noer. Partai Islam Di Pentas Nasional  . Bandung: Mizan. 2000
Miriam Budiardjo. Dasar- Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia






[1] http://yudhysulistio.wordpress.com/2011/02/07/memahami-pemikiran-islam-soekarno-sang-prokamator/27-04-2011

[3] Buku Pendidikan di Mata Soekarno; Modernisasi Pendidikan Islam dalam Pemikiran Soekarno yang disusun Syamsul Kurniawan yang  menjelaskan kenyataan jika Soekarno juga menaruh perhatian pada aspek pendidikan dan terutama pendidikan Islam.
[5]Donald K.Emerton. Indonesia Beyond Soeharto. Jakarta: Grameda. 2001 hal 187

[6] Ahmad Suhelmi. Soekarno Versus Natsir. Jakarta: Darul Falah. 1999 hal 9
[7] Deliar Noer. Partai Islam Di Pentas Nasional  . Bandung: Mizan. 2000  hal 435
[8] Miriam Budiardjo. Dasar- Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia. hal 107
[9] Ahmad Suhelmi. Soekarno Versus Natsir. Jakarta: Darul Falah. 1999
[10] http://kus1978.wordpress.com/2008/05/09/riwayat-singkat-soekarno/27-04-2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar