PENDAHULAUN
A. LATAR
BELAKANG
Islam yang kita catut dari Kalam Ilahi
dan sunnah bukan apinya, bukan nyalanya, bukan! Tapi abunya, debunya, ach, ya
asapnya, abunya yang berupa celak mata dan surba abunya yang bisanya cuma baca Fatihah dan tahlil, bukan apinya yang menyala-nyala dari
ujung zaman satu ke zaman yang lain. (Ir. Soekarno, 1940)
Dalam diskursus politik Islam
Indonesia, Sukarno selalu diposisikan sebagai penentang gerakan Islam paling
wahid yang harus berhadapan dengan pemikir-pemikir Islam taat seperti M.
Natsir. Bahkan, H. Agus Salim pernah menuduhnya telah keluar dari Islam. Tidak
hanya itu, tidak jarang namanya diidentikkan dengan Kemal at-Taturk yang
menghapus lembaga khilafat dan melakukan sekularisasi menyeluruh di Turki. Sangat
gampang mencari pembenaran atas sekularisme Sukarno. Dia-lah penentang gigih
visi Islam sebagai asas negara. Dia pula yang telah membubarkan partai Islam
terbesar, Masyumi.[1]
Layaknya seorang guru yang cakap, ia mampu menyampaikan
gagasan-gagasan penting dengan lancar, penuh imajinasi, dan komunikatif. Di
tangannya, topik-topik bahasan yang sebenarnya berat menjadi gampang dicerna,
mudah dipahami masyarakat luas. Misalnya, pada tahun 1958-1959 ia memberikan
rangkaian kuliah guna menjelaskan kembali sila demi sila dari Pancasila sebagai
dasar negara, masing-masing satu sila setiap kesempatan tatap muka. Pada 26 Mei
1958 ia memulai rangkaian itu dengan memberi kuliah tentang pengertian umum
Pancasila. Setelah menyampaikan penjelasan tentang berbagai bentuk kapitalisme
dan perlawanan terhadapnya, ia menekankan bahwa Pancasila bukan hanya merupakan
pandangan hidup, melainkan juga alat pemersatu bangsa.
Kuliah pembukaan itu disusul kuliah-kuliah serupa lain yang
biasanya diadakan di Istana Negara dan disiarkan langsung melalui radio ke
seluruh penjuru Tanah Air. Berbeda dengan pidato-pidato Bung Karno di depan
massa yang biasanya berapi-api membakar semangat rakyat, kuliah-kuliah ini
berjalan lebih rileks dan komunikatif.
Dengan kuliah-kuliah itu tampaknya Bung Karno ingin
sekaligus mengingatkan, Istana Negara bukan tempat sangar atau sakral yang
hanya boleh dimasuki presiden dan pejabat maha penting negeri ini, tetapi
Istana milik rakyat, tempat masyarakat belajar mengenai banyak hal, termasuk
dasar negara. Ia ingin menjadikan Istana (dan mungkin Indonesia umumnya)
sebagai “ruang kuliah” di mana terselenggara proses belajar-mengajar antara
masyarakat dan pemimpinnya.[2]
PEMBAHASAN
PEMIKRAN FILSAFAT
PENDIDIKAN ISLAM IR. SOEKARNO
A. BIOGRAFI IR. SOEKARNO
Presiden pertama Republik
Indonesia adalah
Soekarno, yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni
1901 dan meninggal di Jakarta tanggal, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden
Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau
mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati
mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri
Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita
turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..
Masa kecil Soekarno hanya
beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat,
beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto,
politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS
(Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng
jiwa Nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan
melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang
sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.
Kemudian, beliau
merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia)
pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda,
memasukkannya ke penjara Sukamiskin Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan
bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia
Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih
maju itu.
Pembelaannya itu membuat
Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas
pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya.
Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun
1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan
yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI
pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno
mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17
Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno
terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Sebelumnya, beliau juga
berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan
Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin
dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang
menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI
melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya.
Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus
memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia
disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam
ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan
Proklamasi”.
Ir. Soekarno, mengusulkan
dasar filsafat negara Pancasila dengan susunan:
1. Kebangsaan Indonesia
1. Kebangsaan Indonesia
2.
Internasionalisme atau perikemanusian
3.
Mufakat atau demokrasi
4.
Kesejahteraan Sosial
5.
Ketuhanan Yang Maha Esa
Ketokohan
Ir. Soekarno begitu melegenda sebagai proklamator dan pemimpin besar negeri
ini, dalam konteks perjuangan Indonesia merdeka di abad modern namanya tetap
menjadi yang terdepan, dicintai oleh rakyat, dibela oleh para loyalisnya dan
diakui oleh Barat sebagai pemimpin yang konsisten dengan perjuangan anti
kapitalisme, kolonialisme dan neo kapitalisme.
Nama
Soekarno mempunyai magnet yang besar, pidato – pidatonya begitu menggelegar dan
menggelorakan semangat nasionalisme dan kini para soekarnois masih mempercayai
bahwa bung karno yang kharismatik adalah pemimpin besar yang tak akan pernah
tergantikan.
Bung
Karno sebagai Icon Nasionalis tidak perlu diragukan lagi, dari barat hingga ke timur
negeri ini seolah meng-amini namun sisi lain bung karno sebagai sosok guru
bangsa yang juga memiliki sisi – sisi islamis tentu tak banyak orang yang
mengetahuinya terlebih di masa kepemimpinannya diwarnai dengan benturan –
benturan politik dengan kalangan islamis dan polemik yang menajam seputar dasar
negara dengan tokoh paling terkemuka kalangan Islam saat itu, Mr. Mohammad
Natsir. Perlu untuk digarisbawahi bahwa kecintaan kalangan Islam kepada bung
karno diekspresikan dengan sikap kritis dan upaya – upaya koreksi atas sikap
dan langkah politik bung karno bukan dengan sikap selalu manis apalagi
meng-kultuskan-nya, sebuah sikap yang dianggap oleh sebagian kalangan
soekarnois sebagai sikap kontra revolusioner, padahal sepanjang sejarah
kekuatan politik Islam yang dipresentasikan oleh Masyumi justru senantiasa
bersikap sebagai kekuatan penyeimbang (oposisi) yang senantiasa “loyal”, meski
sejarahnya terbungkus oleh kabut misteri namun “pengkhianatan” itu akhirnya
justru datang dari Partai Komunis Indonesia (PKI) koalisi strategis pemerintah
bung karno yang tergabung dalam Nasakom yang selalu berusaha mentahbiskan
dirinya sebagai kekuatan yang proggresive revolusioner.
Nama
Bung Karno yang dikenal sebagai Putra Sang Fajar tidak bisa dilepaskan dari
tokoh–tokoh Pergerakan Islam yang Istiqomah berjuang demi cita–cita besar
Kemerdekaan Indonesia, pemuda Soekarno pernah mondok di rumah tokoh Haji Oemar
Said Cokroaminoto, tokoh terkemuka Sjarikat Islam, selain belajar filsafat dan
pemikiran Islam pemuda soekarno juga belajar tentang pergerakan kepada orang
yang tepat, bung karno sangat menikmati ceramah dan orasi cokroaminoto yang
penuh energi perjuangan meski berada dalam pengawasan pihak belanda, gaya orasi
sang guru turut membentuk gaya kepemimpinan bung karno dengan ciri khas pidato
– pidatonya yang lantang dan berapi – api, Islamisme Cokroaminoto yang dijuluki
oleh belanda sebagai “raja jawa tanpa mahkota” sedikit banyak terserap oleh
pemuda soekarno, meski bung karno akhirnya memilih jalannya sendiri dengan hijrah
ke Bandung dan kemudian mendirikan Partai Nasionalis Indonesia.
Tatkala
berada dalam pengasingan belanda bung karno senantiasa berkorespondesi dengan
Kyai Haji Mas Mansur, tokoh pergerakan dan ulama berpengaruh asal Surabaya yang
dekat dengan kalangan NU, kelak KH Mas Mansur dipercaya menjadi Pengurus Besar
Pesyarikatan Muhammadiyah dan pada masa pendudukan jepang mendirikan Pusat
Tenaga Rakyat (PUTERA) dan terlibat dalam perjuangan bersama Bung Karno dalam
Empat Serangkai.
Dengan
Mas Mansur Bung Karno sering bertukar pikiran tentang Dinamika Islam dan
langkah-langkah untuk me-mudakan pengertian Islam, beliau mengutarakan
ketidaksetujuannya dengan sikap taklid bahkan secara tegas mengkritisi tentang
“hijab” atau pembatas antara jamaah pria dan jamaah wanita, dan banyak
kegelisahan–kegelisahan bung karno tentang permasalahan keislaman yang
kesemuanya itu menunjukkan semangat dan harapan seorang soekarno agar Syiar
Islam tidak jalan ditempat.
Selain dengan KH Mas Mansur, Bung Karno juga seringkali
berkirim surat kepada Tuanku A. Hassan, Tokoh Islam Pendiri Persis di Bandung,
Dalam Buku “Di Bawah Bendera Revolusi” surat-surat itu turut didokumentasikan,
Bung Karno tidak segan-segan meminta “dikirimi” Literatur Islam tatkala berada
dalam pengasingan. Disisi lain Fatmawati, Isteri Bung Karno dikenal sangat
agamis, dalam sebuah catatan terungkap bahwa pada saat rapat raksasa di
Lapangan Ikada yang kini dikenal sebagai Gelora Bung Karno, fatmawati
mengumandangkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Latar belakang Fatmawati yang Agamis
dinilai juga membawa pengaruh yang besar terhadap karir politik dan perjalanan
hidup bung karno hingga akhir hayatnya.
C. PEMIKIRAN
PENDIDIKAN ISLAM SOEKARNO
Nama
Soekarno tidak hanya disegani di Indonesia, tapi juga di dunia. Sebagai pejuang
kemerdekaan dan presiden pertama negeri ini, Soekarno sangat menentang setiap
bentuk imperialisme dan neokolonialisme. Kiprah dan pemikiran Soekarno terekam
dalam catatan-catatan sejarah. Telah banyak diterbitkan buku yang menceritakan
perjuangan dan kehidupan Soekarno. Dari sekian banyak buku itu ternyata kurang
menggali pemikiran Soekarno dalam aspek pendidikan. [3]Ketika
Soekarno menaruh perhatian terhadap pendidikan Islam mungkin ada yang
keheranan. Pasalnya, Soekarno selama ini tidak dikenal sebagai tokoh dan
pemimpin muslim. Keheranan itu setidaknya perlu dihilangkan karena sebenarnya
Soekarno juga mendalami Islam, bahkan pernah berkecimpung dalam salah satu
organisasi sosial keagamaan terbesar di negeri ini. Bahkan, tokoh Islam dari
luar Indonesia seperti Jamaluddin Al-Afghani diakui memberikan pengaruh pada
pemikiran Soekarno.
Pendidikan
Islam menjadi salah satu perhatian Soekarno karena dapat dipakai sebagai sarana
transformasi masyarakat muslim Indonesia. Dalam pandangan Soekarno, pendidikan
Islam merupakan arena untuk mengasah akal, mempertajam akal, dan mengembangkan
intelektualitas. Integrasi ilmu ditekankan Soekarno dimana pendidikan Islam
tidak harus mendikotomikan ilmu agama dan ilmu umum. Esensi ilmu agama dan ilmu
umum pada dasarnya tidak berbeda yang bertujuan mengabdi pada Tuhan sebagai
jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ditelisik lebih
mendalam, peran akal bagi Soekarno memiliki posisi penting dalam setiap langkah
kehidupan manusia. Bagi Soekarno, hanya dengan cara tersebut kemajuan di bidang
ilmu dan teknologi dapat diraih yang pada gilirannya membawa kebangkitan Islam.
Soekarno menyebut bahwa ”motor” hakiki dari semua rethinking of Islam adalah
kembalinya penghargaan terhadap akal. Soekarno menegaskan perlu difungsikannya
akal agar umat Islam mampu bangkit dari keterlelapan. Umat Islam harus berani
melepaskan diri dari ”penjara taqlid” dan memberanikan diri untuk menatap masa
depan yang sarat dengan kompetisi dan kompleksitas kultur dan ilmu pengetahuan.
Pemikiran Soekarno terkait aspek pendidikan juga menyoroti
posisi perempuan. Perempuan harus diberi hak yang sama dengan laki-laki untuk
mampu memberdayakan diri dan berkontribusi bagi kehidupan. Soekarno menentang
pendidikan Islam yang memarjinalkan kaum perempuan. Tak kalah menariknya,
Soekarno membahas pentingnya guru dalam proses pendidikan. Menurut Soekarno,
guru tidak sekadar ahli dalam bidangnya, tapi hendaknya mampu menjadi teladan.
Soekarno pernah berkata, ”Hanya guru yang benar-benar Rasul Kebangunan dapat
membawa anak ke dalam alam kebangunan. Hanya guru yang dadanya penuh dengan
jiwa kebangunan dapat ”menuntun” kebangunan ke dalam jiwa anak.[4]
Soekarno dengan segala dinamikanya menunjukkan bagaimana tokoh yang satu
ini menempati hati rakyat Indonesia bahkan dunia. Soekarno merupakan sosok
historis yang menampung berbagai makna dalam artiannya. Beliau merupakan salah
seorang founding fathers, presiden pertama RI, tokoh dunia, serta
mewakili warna nasionalisme dan otoriter yang tercermin dalam pantulan periode
pemerintahannya.
Soekarno dilahirkan pada 6 Juni 1901 dengan orangtua Raden Sukemi
Sosrodihardjo dan Ida Nyoman Rai. Kedua orangtua Soekarno termasuk dalam
kalangan bangsawan (priyayi dan brahmana).[5] Hal ini berpengaruh pada kesempatan Soekarno
untuk mengecap pendidikan tinggi dari Barat hingga mencapai gelar Insinyur
(seperti diketahui pada masa penjajahan kolonial Belanda, pendidikan tidak
dibuka luas bagi semua akses lapisan masyarakat). Selain itu semenjak kecil
Soekarno mendapatkan sosialisasi nilai dari wayang yang kerap ditontonnya
hingga dinihari. Penyerapan nilai- nilai wayang ini menyebabkan pola pemikiran
Soekarno merupakan replika dari nilai tradisionalisme Jawa. Konsep ksatria
merupakan konsep yang direguk Soekarno sebagai landasan bagi perjuangannya
terhadap kolonialisme yang mencengkram wilayah Indonesia.
Soekarno dengan
kemampuannya dalam memahami bahasa asing menyelami alam pemikiran para pemikir
besar dunia (seperti Marx, Gladston,Rousseau,Jaures,dan lainnya) yang membentuk
corak dan arah pemikiran Soekarno. Kemampuannya ini menjadikan pemikiran Soekarno
kosmopolitan dan menjadikannya tidak terkungkung pada teori-teori Indonesia
saja dalam pemikirannya. Hal ini bisa dilihat dalam pikirnya di masa demokrasi
terpimpin yang kontra terhadap neokolonialisme dan cenderung membawa Indonesia
ke blok Komunis. Kekaguman dan penghayatan terhadap pemikir barat juga
menyebabkan bagaimana Soekarno melihat Islam dalam implementasinya. Soekarno
banyak melahap tulisan para orientalis Barat tentang Islam yang mengkonstruksi
pemikirannya tentang Islam. Dalam korelasinya dengan Islam, pengaruh lingkungan
keluarga dan sosial juga mempengaruhinya. Bagaimana keluarga Soekarno yang
dalam klasifikasi Geertz tergolong abangan membentuk bagaimana Soekarno melihat
Islam (bandingkan dengan Natsir misalnya yang terbentuk dengan pola muslim yang
moderat).[6]
Dengan latar belakang tersebutlah Soekarno tumbuh
dan terkembang serta menyalurkan pemikirannya dalam bentuk demokrasi terpimpin.
Demokrasi terpimpin ditenggarai hadir dikarenakan kompetisi antar parpol yang
ketat dikarenakan tiada partai yang memperoleh suara mayoritas. Konsep
demokrasi terpimpin merupakan jalan potong yang membahayakan bagi
keberlangsungan Indonesia dan nyaris menjungkalkan negeri ini ke cengkraman
Komunis. Konsep demokrasi terpimpin menyakini Soekarno sebagai Pemimpin
revolusi yang belum selesai, Presiden seumur hidup, serta gelar keagamaan yang
disematkan NU- wali al amri dharuri bi al syaukah.[7] Rangkaian kebijakan yang
merupakan output dari demokrasi terpimpin telah membawa negeri ke dalam belukar
yang membahayakan eksistensi demokrasi dan keutuhan negeri. Masyumi dan PSI
menjadi partai yang dimusuhi, pada akhirnya harus menghentikan operasional
kegiatan operasinya. Dalam hal ini penguasa layaknya nakhoda yang sahih dan
wajib ditaati untuk membawa negeri ke cita- cita revolusi yang diinginkan.[8]
Pemikiran
NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis) yang diusung oleh Soekarno pada
periode demokrasi terpimpin jika ditilik merupakan kontinuitas dari pemikiran
Soekarno muda pada tahun 1926 dengan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme
(dapat dilihat dalam di bawah bendera revolusi). Konsep ini juga merupakan
sintesis dari berbagai arus besar yang ada di Indonesia.
Pemikiran
Soekarno untuk menentang neokolonialisme juga tak bisa dilepaskan dari pengaruh
wayang yang menyerap di lapisan pemikirannya. Kekagumannya pada sosok Bima
dalam kisah wayang diejawantahkan sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuatan
imperialis dan antek- anteknya. Akibat langsungnya ialah sejumlah politik
mercusuar yang menguras kas Negara dikarenakan keinginan untuk membangun
kemegahan fisik.[9] (kompleks stadion senayan, monas, sejumlah
patung, ajang pesta olahraga bagi yang anti imperialisme Barat) hal ini
mengingatkan pada megalomania yang mengidap para raja dengan membangun
bangunan- bangunan besar atas nama kebesaran dan keagungan.
Pemikiran Soekarno yang menegasikan kalangan Masyumi dan
memenjarakan sejumlah tokohnya seperti Natsir, Hamka, melahirkan resistensi
bagi sejumlah kalangan Islam. Tiada berlebihan jika dalam penumpasan PKI,
kalangan Islam turut aktif dikarenakan selain garis komunis yang merugikan
kalangan muslim, juga dikarenakan kekecewaan kalangan muslim atas sikap
Soekarno. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 telah menjadi kebijakan yang merugikan
bagi kalangan islam politik dikarenakan kesempatan untuk melegalisasi Islam
sebagai dasar Negara menjadi terhalang untuk kesekian kalinya (setelah
penghapusan tujuh kata di Piagam Jakarta).
Pemikiran Soekarno yang kontra asing juga menghadirkan skenario bahwa
tergulingnya Soekarno dari tampuk kekuasaan, juga tiada bisa dilepaskan dari
peran asing. Dalam sejumlah buku baik berupa biografi, maupun yang ditulis
penulis asing, ada indikasi campur tangan asing dalam alih kekuasaan ke tangan
Soeharto dan memulai era yang dinamai Orde Baru. Masa Demokrasi terpimpin juga
tidak bisa dilepaskan echonya sebagai 1959-1965 saja, melainkan lebih
dari periode tersebut. Periode Orde Baru dibangun dengan sebuah ketakutan dan
memori kelam dari sejarah masa tersebut. High cost economy dengan
sejumlah pembangunan mega proyek turut mengakselerasi berakhirnya era Soekarno.
Tautan antara faktor politik, ekonomi, sosial, yang berakumulasi dalam
terminologi waktu membawa demokrasi terpimpin ke akhir eranya. Meski begitu
berakhirnya era Orde Lama tidak berarti punahnya pemikiran Soekarno. Pemikiran
Soekarno masih begitu dikagumi, ditelaah dan diejawantahkan dalam konteks
kontemporer.
D.
TEORI
DAN PRAKSIS
Dari teori-teori filsafat dan
politik serta acuan-acuan historis yang digunakan dalam mengurai sila-sila
Pancasila, tampak pengetahuan Soekarno amat luas dan dalam. Dalam
uraian-uraiannya, tidak jarang ia menyitir pikiran Renan, Confusius, Gandhi,
atau Marx. Dengan begitu, ia seolah ingin menunjukkan dan memberi contoh, tiap
warga negara perlu terus memperluas pengetahuannya. Meski ia sendiri sebenarnya
dididik sebagai orang teknik, namun amat akrab dengan ilmu-ilmu sosial,
terutama filsafat, sejarah, politik, dan agama.
Dalam salah satu kuliahnya Bung
Karno menyinggung kembali pertemuan dan dialognya dengan petani miskin Marhaen.
Dialog sendiri sudah berlangsung jauh sebelumnya, tetapi ia masih mampu
mengingat dan menggambarkan amat jelas. Ini menandakan, Soekarno menaruh
perhatian pada perjumpaannya dengan wong cilik, rakyat jelata, dan ingin
menjadikannya sebagai titik tolak perjuangan bersama guna membebaskan rakyat
Indonesia dari belenggu kemiskinan dan ketidakadilan.
Dengan
kata lain, sebagai guru bangsa ia tak suka hanya berkutat di dunia teori,
tetapi juga menceburkan diri ke realitas kehidupan sehari-hari bangsanya. Bung
Karno selalu berupaya keras mempertemukan “buku” dengan “bumi,” menatapkan
teori-teori sosial-politik dengan realitas keseharian manusia Indonesia yang
sedang ia perjuangkan. Bung Karno terus mempererat kaitan teori dan praksis,
refleksi dan aksi. Mungkin inilah salah satu faktor yang membedakannya dari
pemimpin lain, baik yang sezamannya maupun sesudahnya.
Perlu diingat, lepas dari apakah
orang setuju atau tidak dengan uraian dan gagasannya, satu hal tak dapat
diragukan tentang Soekarno: ia bukan seorang pejabat yang korup. Sulit
dibayangkan, Soekarno suka menduduki posisi-posisi tertentu di pemerintahan
karena ingin mencuri uang rakyat atau menumpuk kekayaan untuk diri sendiri.
Perjuangan Soekarno adalah
perjuangan tulus, yang disegani bahkan oleh orang-orang yang tak sepaham
dengannya. Karena itu, tak mengherankan betapapun ruwetnya ekonomi Indonesia di
bawah pemerintahaannya, tak terlihat kecenderungan pejabat-pejabat pemerintah
di zaman itu yang tanpa malu korupsi atau berkongkalikong menjual sumber-sumber
alam milik rakyat.[10]
PENUTUP
KESIMPULAN
Presiden pertama
Republik Indonesia
adalah Soekarno, yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur,
6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta tanggal, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama
Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai.
Nama Ir. Soekarno begitu melegenda sebagai proklamator dan
pemimpin besar negeri ini yaitu Indonesia, dalam konteks perjuangan Indonesia
merdeka di abad modern namanya tetap menjadi yang terdepan, dicintai oleh
rakyat, dibela oleh para loyalisnya dan diakui oleh Barat sebagai pemimpin yang
konsisten dengan perjuangan anti kapitalisme, kolonialisme dan neo kapitalisme.
Pendidikan Islam
menjadi salah satu perhatian Soekarno karena dapat dipakai sebagai sarana
transformasi masyarakat muslim Indonesia. Dalam pandangan Soekarno, pendidikan
Islam merupakan arena untuk mengasah akal, mempertajam akal, dan mengembangkan
intelektualitas. Integrasi ilmu ditekankan oleh soekarno dimana pendidikan
Islam tidak harus mendikotomikan ilmu agama dan ilmu umum. Sebenarnya Ia dididik sebagai orang
teknik, namun Ia amat akrab dengan ilmu-ilmu sosial, terutama filsafat,
sejarah, politik, dan agama.
Soekarno menaruh perhatian pada wong cilik, rakyat jelata,
dan ingin menjadikannya sebagai titik tolak perjuangan bersama guna membebaskan
rakyat Indonesia dari belenggu kemiskinan dan ketidakadilan. Perjuangan
Soekarno adalah perjuangan tulus yang disegani, bahkan ole orang-orang yang tak
sepaham dengannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad Suhelmi. Soekarno Versus
Natsir. Jakarta: Darul Falah. 1999
Deliar Noer. Partai Islam Di
Pentas Nasional . Bandung: Mizan.
2000
Miriam Budiardjo. Dasar- Dasar
Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia
[1] http://yudhysulistio.wordpress.com/2011/02/07/memahami-pemikiran-islam-soekarno-sang-prokamator/27-04-2011
[3]
Buku Pendidikan di Mata Soekarno;
Modernisasi Pendidikan Islam dalam Pemikiran Soekarno yang disusun Syamsul
Kurniawan yang menjelaskan kenyataan
jika Soekarno juga menaruh perhatian pada aspek pendidikan dan terutama
pendidikan Islam.
[5]Donald K.Emerton. Indonesia
Beyond Soeharto. Jakarta: Grameda. 2001 hal 187
[6]
Ahmad Suhelmi. Soekarno Versus Natsir. Jakarta: Darul
Falah. 1999 hal 9
[7]
Deliar Noer. Partai Islam Di Pentas Nasional . Bandung: Mizan. 2000 hal 435
[8]
Miriam Budiardjo. Dasar- Dasar Ilmu Politik. Jakarta:
Gramedia. hal 107
[9]
Ahmad Suhelmi. Soekarno Versus Natsir. Jakarta: Darul
Falah. 1999